Pilihan Investasi Terbaik Tahun 2026

pilihan investasi terbaik 2026
Pilihan Investasi Terbaik Tahun 2026

Pernahkah Anda melihat papan harga di supermarket menempel stiker merah “diskon 50%” dan langsung merasa harus segera membeli? Di pasar saham, fenomena serupa sedang terjadi, tapi dengan stiker diskon yang bahkan lebih besar dari 50% untuk sejumlah saham berfundamental kuat. Di tengah tekanan global dan rebalancing indeks MSCI yang mengeluarkan 19 saham Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk ke level 6.767,87 pada 13 Mei 2026. Namun, di balik “obral besar-besaran” ini, ada pertanyaan penting: apakah ini saatnya memilih investasi saham sebagai pilihan investasi terbaik 2026?

Menariknya, BNI Sekuritas menilai bahwa dari sisi PE maupun PBV, valuasi IHSG saat ini cukup murah, bahkan posisi PE masih dekat dengan minus dua standar deviasi di bawah rata-rata level yang hampir tidak pernah terlihat dalam hampir 20 tahun. Di artikel ini, kita akan membedah mengapa saham under value dan apakah saham investasi terbaik 2026. Lebih dari itu, Anda akan mendapatkan framework praktis untuk membandingkan instrumen (saham vs emas vs reksadana), strategi akumulasi yang sudah terbukti, dan cara menghitung sendiri apakah suatu saham sudah masuk zona diskon atau masih jebakan. Saya akan gunakan contoh saham nyata dari IDX seperti BBCA, BBRI, dan ANTM, plus kalkulasi valuasi yang bisa langsung Anda praktikkan.

Singkatnya, pilihan investasi terbaik di 2026 adalah saham berkualitas yang saat ini sedang didiskon besar bukan karena bisnisnya rusak, tapi karena sentimen eksternal. Namun, strateginya tidak bisa asal comot. Anda perlu pendekatan yang tepat.

Definisi Cepat: Apa Itu Saham Undervalued dan Mengapa Relevan di 2026

Secara definisi, saham undervalued adalah saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Nilai intrinsik bisa diestimasi dengan berbagai metrik, seperti Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings Ratio (PER). Contoh: jika sebuah perusahaan memiliki PBV 1,5x secara historis, tetapi saat ini PBV-nya hanya 0,8x, maka saham tersebut sedang diskon.

Mengapa relevan di 2026? Karena saat IHSG mengalami koreksi dalam setelah mencapai all-time high (ATH) di level 9.134 pada 20 Januari 2026, banyak saham dengan fundamental solid ikut jatuh secara tidak rasional. PER IHSG turun ke level 16 kali, lebih murah dibanding bursa regional. Mayoritas sektor diperdagangkan di bawah minus satu standar deviasi dari rata-rata valuasi historisnya. Ini bukan sekadar koreksi biasa; ini adalah momen langka yang memunculkan pilihan investasi terbaik 2026.

Mengapa Pilihan Investasi Saham Menjadi Primadona di 2026

Saat ketidakpastian global meningkat, investor sering panik dan lari ke instrumen yang dianggap “aman” seperti deposito atau emas. Namun, bagi investor dengan pendekatan value investing, momen seperti ini justru menjadi peluang membeli saham berkualitas dengan harga diskon.

Kenapa Bukan Instrumen Lain?

Deposito dan obligasi menawarkan imbal hasil yang pasti namun terbatas. Emas memang bisa menjadi lindung nilai di tengah gejolak dan berpotensi memberikan capital gain 10% hingga 15% jika ketidakpastian berlanjut, namun emas tidak menghasilkan arus kas. Sementara itu, saham blue chip yang undervalued memberikan dua keuntungan sekaligus: potensi capital gain saat valuasi kembali normal dan dividen yang bisa di-reinvestasi.

Kapan Saham Menjadi Pilihan Utama?

Memilih pilihan investasi terbaik 2026 sebenarnya bergantung pada profil risiko dan horizon waktu. Berikut tabel perbandingan singkatnya:

InstrumenRisikoImbal Hasil PotensialCocok Untuk
Saham blue chip diskonMenengah – TinggiTinggi (capital gain + dividen)Investor jangka panjang (3-5 tahun ke atas)
EmasRendah – MenengahMenengah (capital gain)Lindung nilai, diversifikasi
DepositoSangat RendahRendah (4% – 5,5%)Konservatif, jangka pendek
Reksadana sahamMenengah – TinggiTinggi (mirip saham)Pemula yang ingin diversifikasi instan
Reksadana pasar uangSangat RendahRendah (stabil)Dana darurat, jangka pendek

Saham under value saat ini menjadi pilihan utama karena faktor diskonnya yang besar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, juga mengatakan bahwa valuasi rata-rata saham di Indonesia sekarang lebih murah dan meminta investor selektif memanfaatkan momentum untuk masuk ke pasar dan memilih saham terbaik.

Untuk memahami lebih jauh tentang investasi saham dan risikonya, Anda bisa membaca panduan dasar kami.

Perbandingan Sektoral: Sektor Mana Paling Menarik di 2026?

Tidak semua sektor diciptakan sama. Saat valuasi IHSG sedang murah, sektor-sektor tertentu menawarkan potensi diskon yang lebih menarik dari yang lain. BNI Sekuritas menyebut bahwa sektor consumer non-cyclicals, financials, dan kesehatan saat ini menarik secara valuasi karena berada di bawah minus satu standar deviasi.

Tabel Benchmark Valuasi per Sektor (Estimasi PBV Wajar)

SektorRata-rata PBV WajarPBV Saat IniStatus Diskon
Perbankan (big cap)1,5x – 2,5x~1,2x – 1,8xMenarik
Consumer Goods3,0x – 5,0x~2,5x – 4,0xDiskon moderat
Energi & Komoditas1,0x – 2,0x~0,8x – 1,5xDiskon signifikan
Properti0,8x – 1,2x~0,5x – 0,8xDiskon ekstrem (risiko)

Sektor perbankan, dengan bobot besar di IHSG, tetap menjadi primadona. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyebut saham perbankan masih diminati investor global dalam jangka menengah.

Bagi Anda yang tertarik berinvestasi di rekomendasi saham yang bagus untuk investasi jangka panjang, sektor perbankan dan consumer goods adalah tempat yang tepat untuk memulai.

Bagaimana Menghitung Apakah Suatu Saham Sudah Masuk Zona Diskon?

Ini adalah bagian paling praktis. Anda tidak perlu menjadi analis profesional untuk menilai apakah suatu saham sedang murah atau tidak. Dua metrik yang paling mudah dipahami adalah Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings Ratio (PER).

Metrik 1: Price to Book Value (PBV)

PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan (aset dikurangi utang). Rumusnya: PBV = Harga Saham / Nilai Buku per Lembar.

Jika PBV di bawah 1, artinya harga saham lebih murah dari nilai likuidasi teoritis perusahaan. Namun, hati-hati, PBV rendah belum tentu selalu bagus.

Metrik 2: Price to Earnings Ratio (PER)

PER membandingkan harga saham dengan laba bersih per lembar saham. Rumusnya: PER = Harga Saham / Laba per Lembar (EPS).

PER yang rendah dibandingkan rata-rata historisnya atau dibandingkan kompetitor sektor bisa menjadi sinyal saham undervalued. Namun, PER rendah juga bisa berarti laba perusahaan sedang turun (value trap).

Contoh Praktis: Membedah Tiga Saham Diskonto

Contoh 1: Bank Central Asia Tbk (BBCA)

BBCA adalah contoh sempurna saham blue chip yang valuasinya sedang tertekan di awal 2026. Harga BBCA berkisar di Rp6.000-7.000-an, sementara nilai bukunya (book value) lebih tinggi. Artinya, PBV BBCA sudah di bawah 1,5x, level yang sangat jarang terjadi dalam 5 tahun terakhir. Jika Anda yakin dengan fundamental perbankan Indonesia, level ini historis menjadi titik akumulasi yang menarik.

Contoh 2: Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Sebagai emiten BUMN di sektor pertambangan emas dan nikel, ANTM direkomendasikan oleh sejumlah analis sebagai saham undervalued di 2026. Valuasi ANTM saat ini dinilai murah karena harga komoditas yang masih tinggi dan fundamental yang solid.

Contoh 3: Astra International Tbk (ASII) dan United Tractors Tbk (UNTR)

ASII dan UNTR dinilai undervalue di awal 2026. Analis merekomendasikan beli ASII dengan target harga di level Rp7.450 dan UNTR di level Rp32.000. Diversifikasi bisnis ASII dan eksposur UNTR ke sektor alat berat dan tambang membuat keduanya menarik untuk jangka panjang.

Untuk mengetahui cara menghitung harga wajar saham secara lebih detail, Anda bisa mengunjungi panduan eksklusif kami.

Keterbatasan Metrik PBV dan PER: Kapan Justru Menyesatkan

Sebelum Anda terburu-buru membeli saham dengan PBV super rendah, ada jebakan yang perlu diwaspadai. Inilah pentingnya bagian ini: metrik yang sama bisa menjadi sinyal beli atau jual tergantung konteksnya.

Jebakan PBV Rendah (Value Trap)

PBV di bawah 1 sering dianggap murah. Namun, bisa jadi itu adalah value trap. Contoh klasik: saham properti yang memiliki aset tanah besar tapi tidak likuid. Nilai buku di neraca mungkin tinggi, tapi jika tanah sulit dijual, nilai sebenarnya jauh lebih rendah. Begitu juga bank dengan NPL tinggi: PBV rendah mungkin sudah mencerminkan kualitas aset yang buruk.

Kapan PER Menyesatkan?

PER rendah bisa terjadi karena laba perusahaan sedang menurun drastis. Jika penurunan laba bersifat permanen (bukan karena faktor siklus), maka PER rendah hanyalah ilusi. Sebaliknya, PER tinggi bisa jadi wajar jika perusahaan sedang dalam fase pertumbuhan eksplosif.

Kesimpulan: Gunakan PBV untuk perusahaan dengan aset likuid (perbankan, properti), dan gunakan PER untuk perusahaan dengan laba stabil (consumer goods). Jangan pernah hanya mengandalkan satu metrik.

Untuk memahami lebih jauh tentang strategi menghadapi sideway saham atau pasar yang stagnan, Anda bisa membaca tips khusus dari praktisi pasar.

Strategi Praktis Memilih Saham Diskon dengan Matriks Sederhana

Setelah memahami teori dan risikonya, saatnya bertindak. Berikut kerangka 4 langkah yang bisa Anda gunakan minggu ini.

Langkah 1: Screening Awal

Fokus pada saham-saham yang masuk indeks LQ45 atau IDX30. Saham ini likuid dan fundamentalnya relatif lebih terjamin. Gunakan data dari aplikasi sekuritas atau situs BEI untuk melihat PBV dan PER terbaru.

Langkah 2: Filter dengan Matriks PBV + ROE

Buat matriks sederhana: carilah saham dengan PBV di bawah rata-rata historisnya (idealnya di bawah 1,5x untuk perbankan) dan ROE di atas 15%. Kombinasi ini menandakan perusahaan efisien namun sedang didiskon.

Langkah 3: Cek Dividen Yield

Di tengah pasar yang volatile, dividen bisa menjadi “upah sabar” yang menarik. Targetkan saham dengan dividend yield di atas 4% – 7%.

Langkah 4: Mulai dengan Akumulasi Bertahap

Jangan all-in. Mulailah dengan posisi kecil, lalu tambah jika harga turun lebih dalam. Ini mirip dengan strategi DCA.

Bagi Anda yang ingin diversifikasi dengan modal kecil, cara investasi saham dengan modal kecil bisa menjadi langkah awal yang tepat.

Kesimpulan: Apakah Saham Masih Menjadi Pilihan Investasi Terbaik 2026?

Setelah menyimak data dan analisis di atas, mari tarik benang merah. IHSG anjlok, valuasi murah secara historis, dan regulator sendiri meminta investor memanfaatkan momentum. Namun, apakah saham investasi terbaik 2026? Jawabannya sangat tergantung pada profil risiko dan horizon waktu Anda. Bagi investor jangka panjang dengan disiplin tinggi, saham blue chip yang sedang diskon adalah pilihan investasi terbaik 2026 yang menawarkan potensi upside 30% – 50% dalam 2-3 tahun ke depan.

Tiga poin paling penting yang perlu Anda bawa pulang:

  1. Saham blue chip seperti BBCA, BBRI, ASII, dan ANTM saat ini diperdagangkan di bawah valuasi wajar historisnya. Ini adalah peluang yang tidak datang setiap tahun.
  2. Jangan hanya fokus pada satu instrumen. Kombinasikan saham dengan emas (sebagai lindung nilai) dan reksadana pasar uang (untuk likuiditas) untuk portofolio yang lebih tangguh.
  3. Kunci sukses bukanlah memprediksi titik terbawah, tapi konsistensi menjalankan strategi akumulasi bertahap. Gunakan metode DCA, jauhi FOMO, dan selalu ingat bahwa harga saham akan kembali ke nilai wajarnya seiring waktu.

Saya sendiri, sebagai investor yang telah melewati siklus 2015, 2020, dan 2022, melihat momen saat ini mengingatkan saya pada awal pandemi. Saat itu, banyak yang panik, tapi justru menjadi momen akumulasi terbaik. Hanya saja, pilihannya harus selektif dan disiplin.

Jika Anda ingin mendalami lebih jauh tentang bagaimana memilih saham berkualitas di tengah krisis, baca panduan lengkap kami tentang strategi menghadapi rebalancing MSCI dan dampaknya ke IHSG.

FAQ Section

Q: Apakah emas atau saham yang lebih menguntungkan di 2026?
A: Tergantung tujuan. Emas lebih untuk lindung nilai (hedging) dan potensi capital gain 10-15%, sementara saham blue chip diskon menawarkan potensi upside 30-50% plus dividen. Kombinasi keduanya lebih bijak.

Q: Bagaimana cara memulai investasi saham dengan modal kecil di 2026?
A: Buka rekening di sekuritas yang terdaftar OJK, lalu lakukan akumulasi bertahap dengan metode DCA pada saham blue chip atau reksadana saham.

Q: Kapan waktu yang tepat membeli saham di tengah ketidakpastian?
A: Tidak ada yang tahu titik terbawah. Yang terbaik adalah mulai akumulasi bertahap sekarang, karena valuasi sudah sangat murah secara historis. Jangan tunggu “pasti bottom”.

Q: Apa risiko terbesar membeli saham undervalued saat ini?
A: Risiko terbesar adalah value trap: saham yang PBV-nya rendah karena fundamentalnya memang jelek, bukan karena sentimen pasar. Lakukan riset sebelum beli.

Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan saham undervalued untuk kembali ke harga wajar?
A: Bervariasi, biasanya 1-3 tahun tergantung pemulihan ekonomi dan kinerja emiten. Investor jangka panjang harus siap menunggu.

Gusti Wiratawan (Lanang) — Value Investor Indonesia sejak 2014

Ditulis oleh: Gusti Wiratawan

Value Investor Indonesia sejak 2014

Pendekatan investasi berbasis analisis fundamental dengan metrik PER, PBV, ROE, EV/EBITDA, dan Margin of Safety ala Benjamin Graham & Warren Buffett. Pengelola Wiratawan.com dan MenjadiInvestor.com. Portofolio actual value investing tersedia di Member Area.

📊 10+ Tahun Value Investing 📈 Fokus: IDX/BEI 🎯 Metrik: PER · PBV · ROE · MOS
⚠️ Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi beli/jual efek. Penulis mungkin memiliki posisi di saham yang dibahas. Seluruh keputusan investasi adalah tanggung jawab pembaca. Lakukan due diligence dan konsultasikan penasihat keuangan berlisensi OJK.

Related Posts

Apa itu indeks saham

Apa Itu Indeks Saham? Panduan Lengkap untuk Pemula

Pernahkah Anda melihat berita keuangan yang menyebutkan “IHSG ditutup menguat 0,5 persen” atau “LQ45 mengalami koreksi terdalam dalam sepekan”? Jika Anda baru mulai belajar investasi saham, istilah istilah seperti ini…

Read more
Fomo Saham

FOMO Saham: Ini 5 Tanda Kamu Beli Saham Dengan “FOMO”.

“Bli, gue baru beli saham ini. Kata temen udah masuk rekomendasi, katanya sih bisa naik 50% dalam tiga bulan.” Begitu bunyi pesan WhatsApp yang masuk ke ponsel saya suatu siang…

Read more
ciri ciri saham gorengan

10 Ciri-Ciri Saham Gorengan: Waspadai Jebakan Manipulasi Pasar!

Selama lebih dari 10 tahun saya bergelut di pasar modal Indonesia, saya melihat sendiri bagaimana ciri ciri saham gorengan terus berulang. Bukan karena pelakunya tidak pernah ditangkap, tetapi karena selalu…

Read more
ROE Saham

ROE Saham Tinggi Bukan Jaminan! Pahami Konteks Industri & Sustainable ROE

Banyak investor pemula terjebak dalam mitos bahwa semakin tinggi ROE saham, semakin bagus perusahaan tersebut. Mereka berbondong bondong membeli saham dengan Return on Equity (ROE) di atas 20 persen tanpa…

Read more
price to earnings ratio

Memahami Price to Earnings Ratio Secara Kontekstual: Jangan Asal Membandingkan!

Dalam dunia investasi saham, price to earnings ratio atau PER adalah salah satu metrik valuasi yang paling populer dan sering digunakan. Banyak investor pemula langsung menyimpulkan bahwa saham dengan PER…

Read more
discounted cash flow untuk pemula

Discounted Cash Flow untuk Pemula: Panduan Lengkap

Pernahkah Anda membayangkan memiliki mesin waktu yang bisa membawa uang dari masa depan ke masa kini? Itulah tepatnya yang dilakukan oleh metode discounted cash flow untuk pemula. Metode ini adalah…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *